Berani Nggak Dikritik?

images

“Aye kagak ngatri situ ngomong ape.”

Dalam suatu kesempatan wawancara, saya ditanyakan, “Bagaimana cara menyemangati penulis baru kalau patah semangat karena mendapat kritikan?”

Ehm…kritik. Yah jangankan penulis baru, penulis lama juga nggak sepi dari kritik kok. Anyway, mungkin saya perlu mendefinisikan maksud dari penulis baru terlebih dahulu. Menurut saya, penulis baru adalah penulis yang relatif (baru) mulai serius menerbitkan secara profesional tulisannya dalam bentuk buku (baik cetak maupun e-book) sampai dengan rentang penulis yang baru menerbitkan 1 buku. Sementara penulis lama, saya definisikan sebagai penulis yang sudah menerbitkan secara profesional lebih dari 1 buku.

Kembali ke pertanyaan tentang kritikan. Ketika mendapat kritik lalu patah semangat, terus sedih, galau, baper, nggak mau menulis lagi dan akhirnya mendendam kepada semua orang yang memberikan kritik. Hihi…rugi nggak sih? Rugi lah, tapi kan sedih, masa nggak boleh sedih. Ya bolehlah. Memang siapa saya ngatur-ngatur perasaan orang? Kita kan nggak punya hubungan apa-apa? (mulai drama :P)

Saya pernah jadi penulis baru. Waktu itu tulisan saya masih cupu. Kalau saya baca lagi sekarang, pasti bahasanya cemen banget. Usaha saya menjadi penulis pun dulu tidak mudah. Beberapa kali naskah ditolak. Lalu saat sudah oke untuk diterbitkan, masih harus tunggu 3 tahun sampai bukunya benar-benar terbit. Rasanya campur aduk. Khawatir kalau sebenarnya saya cuma di-PHP-in penerbit.

Pada saat buku saya terbit, tantangan berikutnya adalah…berhadapan dengan pembaca. Perlu digaris bawahi dengan stabillo kuning gonjreng, pembaca itu adalah manusia dengan berbagai macam karakter, minat dan selera. Saat satu pembaca secara ekstrim bilang suka banget buku kita. Di titik ekstrim lainnya ada pembaca yang menunggumu untuk mengatakan “your book is not my cup of coffee” (yaealah…book is book, cup is cup, dan sampai saat ini belum ada inovasi buku sekaligus bisa jadi cangkir sih hehe). Atau dengan kata lain, ada pembaca yang memang tidak suka tulisanmu karena memang bukan seleranya saja. Tak usah khawatir sama model pengritik seperti ini. Sama seperti kamu dan saya, kita juga punya selera masing-masing.

Sampai menerbitkan 8 buku, apalagi kumpulan cerpen bareng penulis-penulis lainnya, saya juga selalu deg-deg’an menunggu review. Terutama kalau dapat proyek kumpulan cerpen bareng penulis-penulis lain yang lebih populer, wuih kans untuk dibanding-bandingkannya lebih besar. Tapi saya tidak mau patah semangat karena itu hanya membuat pengritik merasa bahagia dan saya berkubang dalam derita (okay saya memang drama anaknya)

Saya tidak berpusat pada kritik, tapi juga tidak menganggap kritikan angin lalu. Setiap merasa patah semangat saya mulai kembali kepada tujuan awal saya menulis, yaitu…mengerjakan sesuatu yang membuat saya bahagia.

Fokuslah pada tujuan. Kamu mau jadi apa? Prok prok prok? 🙂 Lalu apa yang harus dilakukan dengan kritik? Evaluasilah tiap kritik yang masuk. Kritik yang membantumu jadi lebih baik, ambil. Sementara yang tidak memberikan nilai apa-apa cuekin saja.

Contoh:

“Saya nggak suka tulisannya penulis A, bukunya buruk. Saya nggak akan beli lagi karyanya.”

“Kenapa nggak suka?”

“Nggak suka aja ceritanya.”

Ini kisah nyata. Tapi kalau penulis A dengerin kritikan itu, mungkin saat ini dia nggak akan menerbitkan lebih dari 10 buku. Lagipula si pengritik juga nggak bisa menjelaskan hal yang dia nggak suka dari buku si penulis A, jadi buat apa didengerin, apalagi bikin sedih.

Tapi kalau misalnya si pengritik itu kasih rekomendasi jelek ke teman-temannya terus mereka percaya, bisa jadi buku kita nggak laku.

Tenang saja, jodoh, rejeki dan maut itu Tuhan yang atur kok.

Lalu kritikan seperti apa sih yang bisa membantu kita? Selama ini saya berpusat pada kritikan yang sifatnya teknis, seperti: EYD yang belum sempurna, cerita yang tidak masuk akal atau secara logika tak dapat dijelaskan (bahkan cerita fantasi saja harus masuk logika walau nggak mungkin terjadi), percakapan yang kaku, alur yang kurang mengalir dan hal-hal lain yang terpampang nyata serta dapat kita perbaiki.

Bahkan sampai sekarang, setiap ingin memberikan naskah ke penerbit, saya akan test pasar dulu ke teman-teman terdekat dan meminta kritikan sepedas mungkin terhadap karya saya untuk bisa saya perbaiki sebelum diberikan kepada penerbit.

Hal lain yang perlu dilakukan ketika menghadapi si pengritik adalah…bersikap ramah dan ucapkan terima kasih. Dengar atau tidak mendengarkan kritikan mereka bukan berarti kita bisa bersikap seenaknya, apalagi marah-marah, mengatai si pengritik nggak cerdas lah, atau bahkan sampai membully si pengritik. Hahaha…kacau itu.

Tetaplah rendah hati, ucapkan terima kasih (ini penting sekali, karena si pembaca sudah meluangkan waktu dan uang mereka untuk bukumu), dan kembali lagi, fokus pada apa yang kamu cita-citakan.

Bila menjadi penulis diibaratkan pertandingan marathon, maka perlu satu langkah awal berani untuk bisa menjuarai pertandingan marathon, yah minimal mencapai garis finish. Lumayan kan bisa upload foto sambil bawa medali karena berhasil finish atau menunjukkan ke anak cucu kita kalau orangtuanya punya buku untuk diwariskan 😊

Salam kompak markompak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s