Kata Saya Sih, “Jadi Penulis Harus Kepo.”

Apa sih yang dilakukan penulis ketika tidak sedang menulis? Mereka (saya) membaca. Lalu ketika membaca jadi punya ide banyak untuk menulis.

Saya penulis yang kepo. Selalu ingin tahu hal-hal baru, gosip, trend atau apapun yang mungkin nggak bisa dikategorikan apa-apa.

Makanya hal yang paling saya suka ketika menulis adalah…RISET! Anyway, saya punya rahasia. Waktu kuliah dulu, saya pernah ditegur dosen karena pas membuat skripsi, bab 2 – Landasan Teori saya terlalu tebal, yang artinya risetnya kebanyakan…hihi. Tapi pengalaman itu nggak bikin saya drop sih, justru sebaliknya, saya semakin suka melakukan riset dan belajar sesuatu yang baru. Kebiasaan itu banyak membantu saya kalau saya mau mencari tahu tentang hal-hal yang ingin saya masukkan ke dalam tulisan saya.

Heh, maksudnya gimana?

Pengalaman yang cukup membuat kepala saya rasanya terbelah 2 pangkat 4 (berapa hayoo 😁), adalah saat melakukan riset untuk novel kedua saya, Flavia Fights Back. Bikin pusing karena riset nya dilakukan untuk hal-hal yang absurd. Dibilang absurd karena genrenya adalah novel fantasi, dan buat saya, biarpun genrenya fantasi, saya tetap tidak suka sesuatu yang asal-asalan.

Di Flavia Fights Back, saya meriset cara melakukan destilasi minyak astiri (penyulingan untuk mendapatkan essential oil) dari bunga anyelir sebagai salah satu senjata rahasia tokohnya. Hadeuh…baca ilmu cara menyuling aja ribet banget. Teknisnya sangat kimia banget (padahal waktu SMA nilai pelajaran kimia saya buruk 😅). Nah setelah itu metode penyulingannya harus dimasukkan ke dalam cerita dengan cara yg menarik (kibas poni deh pokoknya, padahal gak punya poni 😄)

Lalu hal kedua yang cukup bikin ngeri-ngeri sedap adalah, belajar tentang Demonologi. Ilmu tentang setan dan pelajaran tentang neraka. Bahkan sempat dinasihati teman saya untuk nggak usah nyentuh-nyentuh dunia setan karena takut saya berakhir jadi pemuja setan. Amit-amit deh. Tapi dari situ saya jadi tahu kalau neraka ternyata punya 9 tingkatan dan tiap levelnya punya kengeriannya masing-masing hii…. Nah cerita tentang neraka itulah yang saya jadikan latar belakang kisah di Flavia Fights Back.

Hal lain yang menarik adalah saat melakukan riset untuk novel Relung Rasa Raisa. Cari tahu tentang Frankfurt Book Fair, buka google map untuk tahu seluk beluk jalanan di kota Aachen, merasakan dinginnya suhu dan aroma udara Eropa sampai benar-benar terharu biru ketika Indonesia menjadi Guest of Honor dari ajang Frankfurt Book Fair di satu tahun setelah buku saya terbit. Rasanya hasil tulisan saya seperti jadi kenyataan.

Baca: Behind the Story Relung Rasa Raisa

Bagaimana sih cara saya melakukan riset?

Membaca. Pasti! Bisa via buku-buku (dulu zaman kuliah saya suka hang out di perpustakaan untuk riset dan baca buku apapun untuk bikin bahan novel), majalah, koran dan juaranya, googling! Dunia sekarang cuma seluas 10 jari kan?! 11 jari deh kalau kamu ngetiknya cuma pakai telunjuk doang, atau dua jempol kalau via gadget.

Banyak ngobrol sama orang-orang yang lebih berpengalaman. Buka channel pertemanan yang luas dengan orang dari beragam profesi. Untuk menulis novel Alkisah Kasih, saya sampai wawancara 4 orang teman dokter untuk bisa mendalami kehidupan tokoh yang mau saya ceritakan di novel itu. Pernah ngobrol juga sama teman yang bisa ‘lihat’ makhluk halus waktu pengin tahu rasanya tersiksa jadi tokoh Ashka, di cerpen Semudah Aku Mencintai Ashka (Kumcer Bukan Cupid).

Sering naik kendaraan umum…hehe. Untuk bisa mengamati body language, gesture, ekspresi dan perilaku dari orang-orang kebanyakan.

Hal-hal lain yang bisa dilakukan (tapi jarang saya lakukan karena nggak ada waktu) adalah nonton. Bisa film, berita, acara gosip (believe me, kehidupan artis tuh bisa jadi pengetahuan, untuk bikin adegan drama loh😁) dan tontonan lainnya.

Kunci utama supaya riset kita berhasil adalah membuka diri untuk menerima informasi seluas-luasnya. Jangan batasi diri untuk suka satu hal yang itu-itu saja, yang akhirnya bikin ceritamu akhirnya cuma membahas hal yang itu-itu juga.

Saya pernah iseng tanpa tujuan baca buku Sejarah Suku Toraja dan Guiness Book of Record untuk Kasus Pembunuhan Sadis di dunia 😁 (suatu hari pasti bisa dijadiin bahan tulisan)

Kalau kata saya sih..jadilah penulis yang selalu penasaran dan punya rasa ingin tahu yang besar. Kepo… tapi untuk hal yang positif dan jangan sampai merugikan orang lain.

Selamat menulis.

Salam kompak markompak!

2 thoughts on “Kata Saya Sih, “Jadi Penulis Harus Kepo.”

  1. Ira Ratuwalangon says:

    Waahh,, menarik sekali bacanya 😄😄 aku dari dulu suka baca (emang kebanyakan komik, tapi udah beralih ke novel) trus waktu kuliag juga aku suka mainnya ke Toko Buku apalagi klo lagi galau toko buku adalah tempat ternyamanku, nyium aroma buku buat aku tenang kayak aroma laut gitu 😁😁 tapi itu kenyataannya.
    Aku juga pengen nulis tapi tiap kali mau nulis dengan ide-ide dikepala yang aku lakukan adalah terhenti karena tak tau harus mulai dari mana dan selalu menjadi kendala.
    Ada gak sih solusi untuk hal seperti itu?? 😊😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s