Writer’s Block: Realita atau Hoax Semata

Mungkin ulasan tentang writer’s block sudah sering dibahas oleh siapa pun dari belahan dunia mana pun. Tapi karena ada yang tanya ke saya, apakah saya pernah mengalami writer’s block atau nggak? Dan bagaimana cara mengatasi writer’s block. Maka dengan senang hati saya akan cerita tentang pengalaman (bisa jadi) writer’s block yang saya alami.

Sebelumnya, writer’s block itu sebenarnya apa sih? Kalau menurut si ensiklopedia sagala aya, Wikipedia:

Writer’s block is a condition, primarily associated with writing, in which an author loses the ability to produce new work or experiences a creative slowdown. The condition ranges in difficulty from coming up with original ideas to being unable to produce a work for years.”

Dan karena saya seorang Psikolog, maka saya mulai mencari tahu kaitan writer’s block dengan kepribadian. Lalu bertemulah dengan buku Psychology of Creative Writing karya S. B. Kaufman & J. C. Kaufman; dimana menurut mereka writer’s block sendiri merupakan ketidakmampuan seorang penulis dalam melanjutkan ceritanya. Ketika hal itu terjadi kreativitas dan pandangan positif mengenai karya yang tengah dikerjakan dapat hilang tiba-tiba, hingga akhirnya sang penulis mengalami kebuntuan untuk mengisi halaman-halaman tulisannya yang masih main petak umpet. Nggak muncul maksudnya.

Buruknya, pada masa yang pasif ini seorang penulis dapat dihantui oleh perasaan cemas, marah, maupun malu karena tidak dapat menyelesaikan karyanya. Lalu lama kelamaan mood negatif itu bisa jadi tak terkendali dan mengarah kepada depresi. Ulala..

Terus tahu nggak sih, kalau menurut American Psychiatric Association, munculnya depresi merupakan gangguan mood yang ditandai dengan rasa tertekan dan kehilangan ketertarikan. Gejalanya berupa insomnia atau hypersomnia, perubahan pola makan, merasa tidak berharga, kesulitan berpikir, kehilangan tenaga, dan pikiran mengenai bunuh diri. Buset dah…. Lalu saya jadi ingat novel Bag of Bones-nya Stephen King tentang seorang penulis yang mengalami writer’s block paska kematian istrinya. Hubungan sebab akibat jadinya ya.

images

Tapi kalau menurut definisi itu, saya pikir, alih-alih writer’s block, saya justru lebih ngerasain apa yang namanya MALAS. Pernah sampai 6 bulan malas banget nulis. Bisa karena nggak ada ide, nggak semangat, mood lagi nggak bisa diajak kompromi, bosan atau memang lagi sibuk aja (kalau sudah sibuk daripada nulis mendingan tidur). Apalagi saya adalah tipe orang yang harus dikasih deadline. Kalau nggak, bisa bubar jalan seenaknya. Itu yang akhirnya bikin saya jadi nggak produktif menulis.

Beruntung saya menyadari kekurangan saya (dan mau move on), kalau nggak sadar-sadar dan tetap mendewakan ketidakproduktifan saya, mungkin saat ini cuma ngayal gimana rasanya menerbitkan buku (atau nerbitin buku kedua, ketiga dst) dan sibuk nanya ke sana-sini tips jadi penulis (waktu belum jadi penulis), atau hanya iri ketika lihat teman penulis lain udah nerbitin buku baru 😁

Nah karena saya belum pernah mengalami the real writer’s block, maka saya cuma bisa kasih tips-tips yang sejauh ini berhasil di saya kalau penyakit di atas muncul tak terduga.

tumblr_m9ddnqd4jw1rnvzfwo1_r1_540

Saya nggak bisa nulis kalau saya nggak punya uang hihi

Lima Tips Jadi Produktif ala Lea

Pertama,
TETAPKAN TARGET yang realistis. Tahun 2014 jadi tahun terproduktif saya sejauh ini karena berhasil menerbitkan 3 buku! 😁  Target 2014 akan punya 3 buku justru diset dari awal tahun 2013. Karena saya cukup sadar diri dengan kemampuan dan kecepatan saya dalam menulis. Satu tahun saya rasa cukup untuk berproduksi, apalagi saat itu saya sedang hamil anak kedua.

Kedua,
TULISLAH APA YANG KAMU SUKA. Karena dengan itu kamu jadi lebih semangat. Banyak draft-draft tulisan saya yang akhirnya menganggur karena kebodohan saya mencoba menulis sesuatu sesuatu yang saya pikir akan disukai orang lain, yang sedang trend (masih ingat ada penerbit yang nanya ke saya, apakah saya punya naskah dengan cerita dan tokoh ke-Korea-korea-an, waktu era awal-awal trend Korea booming. Sedangkan saya bedain jenis kelamin orang Korea berdasarkan namanya aja nggak bisa) atau tulisan yang sekiranya akan menang sayembara menulis. Saya lupa kalau kunci dari menulis, dan sebenarnya juga dari apapun yang kita kerjakan adalah ketulusan. TULISLAH KETULUSAN. Sepatu, Gajah, Sewindu….(Tulus yang lain ini mah 😁)

Selain itu, ketika suka biasanya kita juga akan lebih semangat. Yah analoginya nih ya, kalau kita lagi naksir seseorang di sekolah, kampus atau kantor, pasti kan jadi lebih semangat ketemu dia. Hujan badai, banjir, gempa nggak jadi penghalang. Kalau dikembalikan ke semangat menulis, rasa suka buat saya semangat melakukan riset, excting mempertajam masalah atau mempermanis cerita. Rasanya menggebu-gebu banget sampai benar-benar mengatur waktu untuk menulis.

Ketiga,
TIME MANAGEMENT. Atur waktumu secanggih mungkin. Nggak mungkin kan dalam 24 jam, kita nggak ada waktu kosong sedikit pun untuk melakukan apa yang kita suka? Intinya sih, selama kita bukan Presiden, harusnya waktu luang kita masih ada 😁 Saya ibu bekerja, yang artinya 8 to 5 waktu saya ada di kantor, plus 3 jam pp di perjalanan (anyway, saya tinggal di Jakarta jadi nggak perlu dijelaskan ya), belum lagi kalau sampai rumah pasti harus menyelesaikan urusan domestik rumah tangga (dapat salam dari cucian dan seterikaan segunung). Weekend? Lah ya masa udah week days ditinggal kerja, weekend keluarga dianggurin juga?

Saat anak saya masih bayi, saya sering gendong anak saya yang sedang tidur (tapi kalau ditaruh di ranjang nangis), lalu duduk mengetik di laptop. Atau bangun tidur lebih pagi dan tidur lebih malam untuk sekedar menulis 5-10 halaman.

Lalu kalau sibuk banget gitu kapan ada waktu untuk menulis? Semua orang pasti pada akhirnya akan menemukan waktu yang paling pas. Seperti saya yang memanfaatkan waktu di kendaraan umum (yang 3 jam itu) untuk menulis. Anyway saya menulis artikel ini juga di dalam bus loh. Thanks to smart phone technology.

Empat
Kalau mau produktif harus GAUL. Heh maksudnya gimana? Kalau saya sih ya, semakin saya mengurung diri, nggak ngobrol sama orang lain, nggak chatting atau googling, nggak baca novel lain, atau buku-buku, even buku resep masakan sekalipun, saya akan makin bunek, duh ini bahasa Indonesianya apa ya. Makin keruh otaknya (bukan karena mikir yang jorok-jorok ya). Intinya makin stres deh. Karena dengan bergaul saya merasa makin kaya ide dan inspirasi.Tapi perlu diingat, kalau semangat lagi tinggi-tingginya setelah bergaul, kita harus fokus, mulai menulis dan kurangi porsi gaulnya.

Kadang di tengah lagi baca novel penulis lain atau lagi dengar lagu, baca berita atau nonton vlog saya bisa buru-buru ambil notes atau nulis di hp ide yang tiba-tiba mencuat, atau dialog dan apapun yang saya rasa mendukung naskah saya.

Lima
MAU BERUBAH. Jangan dewakan sikap tidak produktifmu. Jangan pelihara kemalasan atau mood yang ‘suka-suka dialah’. Jadilah penguasa untuk dirimu sendiri. Kita yang harus mengatur diri kita bergerak sesuai tujuan dan target yang kita buat. Setiap sel dalam tubuh pergunakanlah semaksimal mungkin karena semakin didayagunakan, tiap sel akan bekerja semakin baik. Tetap sehat dan jaga kesehatan juga. Merdeka! 😁

Itu cara-caraku. Bagaimana caramu mengatasi hal-hal yang bisa jadi writer’s block? Share di comment ya supaya bisa jadi insight untuk pembaca yang lain.

Salam kompak markompak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s