Throwback Crafting 2015: Hanging Peacock

Hari Minggu siang, di akhir September 2015 yang cerah ceria karena baru gajian, ihiy, saya meninggalkan anak-anak dengan Papinya untuk berjuang di arena gunting-jahit-lem Workshop Menjahit “Crafting Sampai Keriting”-nya Cemprut Indie Craft yang diadakan di Temple Trees, Senopati. Tema kali ini adalah membuat Hanging Peacock, atau Merak Gelantungan, yang sebenarnya agak nggak masuk akal juga sih, secara merak asli badannya gede, kalau gelantungan bisa ambruk tiangnya…hehe, tapi demi alasan seni, apa saja boleh Kakak.

Nah yang belum pernah ke Temple Trees kayak saya dan akhirnya norak gitu ngelihat betapa crafty isinya hihi, silakan klik di tautan yang saya sematkan. Begitu masuk Temple Trees ekspresi saya adalah, “Gileee, gue pengin punya beginian! Tempat jualan prakarya dan semua jenis hasil aktivitas panca indera, ada cafe sama ruangan crafty pula!” Plus kalau saya mungkin akan tambahkan toko buku kecil.

Lanjut, sampai sana saya langsung bertemu dengan Mbak Dita, yang manis dan ramah. Sebelumnya saya tahu tentang Mbak Dita karena beliau kenalannya Mbak Andri, atasan saya di kantor, yang berhasil membujuk saya membeli boneka hasil prakaryanya Mbak Dita. Saat ini kedua boneka cemprut yang saya adopsi dengan kekuatan jari (cepat-cepatan like waktu lahiran di Facebook) menjadi boneka kesayangan si Boru Manik di rumah 🙂 Mbak Dita kemudian mempersilakan saya duduk sambil menunggu teman-teman yang lain. Di workshop kali ini saya berhasil mengajak dua teman, si Mbak Andri tadi dan Viny, anggota geng Maniez Manja, teman kuliah saya. Selama menunggu, saya mempekerjakan SiFuji untuk mulai foto-foto apapun yang menarik di sana.

Workshop pun dimulai, dan bahan-bahan yang tergeletak dengan indahnya di depan saya mulai diolah lebih lanjut. Ada pola badan si burung yang bagian pinggirnya harus digunting-gunting dulu sehingga saat nanti harus diisi dakron bentuknya bisa rapi. Setelah itu dakron dimasukkan ke dalam badan burung sampai sepadat dan sekeras mungkin. Habis itu baru dijahit ujungnya dengan model tusuk yang dinamakan tikam jejak. Tet tot…apapula itu, saya mah tahunya jejak petualang, atau secanggih-canggihnya jenis tusuk yang saya tahu hanyalah jelujur 🙂

Untunglah ternyata tusuk itu nggak susah. Gampil banget. Haha…mulai sombong, dan burung merak buatan saya pun mulai menggemuk dengan sukses. Setelah itu pekerjaan yang harus dilakukan adalah menggunting pola di kain perca untuk membuat buntut si merak. Pada saat itulah dengan bodohnya jari saya kegunting. Maklumlah, saya memang penderita accidentally prone. Wajar 🙂 Perca sudah digunting, disusun, ditempel dan akhirnya benar-benar jadi buntut merak yang indah. Lalu mulailah melakukan pengeleman dengan glue gun untuk menyatukan si buntut dan badan si merak. Jadi deh!!! Tinggal kasih mata, kasih lipstick (burungnya agak genit memang), kasih pajang dan pamer untuk difoto, foto dan foto lagi. Lalu terakhir tinggal kasih makan ke perut yang lapar. Hihi…

Done for my artsy projects!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s