Seseruan di Critical Eleven

CE

Yeay, dapat goody bag! Rejeki anak baik hati, tidak sombong dan rajin menabung.

Rabu sore akhir Mei, yang besoknya libur hari lahirnya Pancasila, yang kebetulan jam pulang kantor selesai pk 15.30 tepat karena bulan puasa, saya dapat undangan dari teman-teman Gramedia Pustaka Utama untuk nonton bareng film Critical Eleven. Cihuy beibeh dah. Seperti yang memang diinformasikan dalam promosi film tersebut (yang promosinya menurut saya cukup gede-gedean), film Critical Eleven didasarkan oleh novel Critical Eleven karangan Ika Natassa.

Setelah saya ‘pamer’ kalau sudah nonton filmnya, ada beberapa teman mulai menanyakan apakah filmnya bagus atau tidak? Buat beberapa teman, film Indonesia seringkali masih mengecewakan, jadi jangan sampai mengeluarkan uang untuk nonton tapi ternyata filmnya absurd. Kalau saya pribadi, dikarenakan (sok) sibuk sebagai ibu bekerja yang jarang lihat matahari, yang akhir minggunya dipakai untuk nyuci baju (curcol) dan yang terpenting nggak tega ninggalin anak di rumah hanya untuk ke bioskop, pasti akan memastikan bahwa film yang ditonton di bioskop benar-benar worth it. Film terakhir yang ditonton di bioskop bareng suami adalah AADC2, itu pun karena saya ngefans banget sama Nicholas Saputra (peace ya bapak suami! :P)

Nah kenapa akhirnya saya nonton Critical Eleven, yah selain dapat undangan, saya juga merasa punya kedekatan dengan perjalanan Critical Eleven mulai dari cerpen, novel sampai berakhir di layar kaca. Pada tahun 2013, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan satu proyek kumpulan cerpen cinta, judulnya Autumn Once More. Beberapa penulis dan editor menjadi kontributor cerita, termasuk Ika Natassa dengan cerpen Critical Eleven dan juga saya dengan cerpen Her Fooprints on His Heart. So, cukup kelihatan ya koneksi dan kenapanya… yaelah ini kata pembukaannya aja panjang banget ya mbakyu?

Anyway, menurut saya ada dua jenis penonton film. Ada yang tipe nonton untuk dibawa asyik aja, so mau filmnya menurut kata dunia, bagus atau tidak, buat dia yang penting asyik (terus kepalanya geleng-geleng sambil ajep-ajep 😛 ). Lalu tipe kedua adalah penonton yang serius banget mereview kekuatan dan kelemahan film tersebut dan mampu dengan detail menuliskan analisanya. Dan khusus untuk film yang diadaptasi dari buku, maka akan ada dua jenis penonton, satu yang membaca bukunya, satu lagi yang nggak pernah baca sama sekali.

Nah orang-orang seperti beberapa teman saya, yang nggak mau gambling kalau nonton film, pasti akan berteman dengan orang-orang yang suka mereview film. Maka sebagai teman yang baik, saya akan coba mereview film ini tapi dari sudut pandang bukan pembaca novel Critical Eleven, walau saya sudah pernah baca sih. Kenapa? Yah karena kalau didasarkan pada novel, pasti saya akan mulai membanding-bandingkan antara film dan novelnya. Padahal ketika novel sudah menjadi film, maka dia akan jadi satu media cerita utuh yang terpisah. Masing-masing harus bisa menampilkan performa maksimalnya

This slideshow requires JavaScript.

The Story

Critical Eleven bercerita tentang kehidupan Ale (Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti) yang jatuh cinta dalam periode critical eleven pertemuan mereka di pesawat terbang (orang tua saya pertama kali ketemu juga kayak gitu loh, tapi di bus AKAP). Mereka kemudian menikah dan pindah ke Manhattan karena Ale bekerja di penambangan minyak lepas pantai di Teluk Meksiko. Di Manhattan, karena sering ditinggal Ale selama berminggu-minggu [hiks banget ya, diajak ke Manhattan tapi cuma untuk ditinggal. Kalau saya mendingan di Jakarta saja, paling nggak masih bisa ketemu ketoprak. Toh nanti pas libur suami juga tetap akan pulang ke rumah. Tapi mungkin mereka memikirkan harga tiket pesawat PP Amrik – Indonesia vs PP Teluk Meksiko – Manhattan 🙂] akhirnya Anya menyibukkan diri dengan nyuci baju (OMG, ternyata dia sama kayak saya!) sampai akhirnya dia hamil dan Ale menjadi super protektif padanya. Lalu karena satu kejadian yang membuat Anya terluka, akhirnya Ale memutuskan, kita sepertinya harus balik ke Jakarta deh, biar kalau saya tinggal kerja, ada keluarga kita yang bisa jagain kamu. Padahal di Manhattan, Anya sudah punya pekerjaan (ternyata mudah ya cari dan diterima kerja di US, jadi pengin) dan sudah nyaman banget (gimana nggak, pretzel-nya aja lebih gede dari yang dijual di Auntie’s Anne!). Ale sampai bete dan tercetuslah sebuah kalimat yang menjadi sedikit percikan masalah di antara mereka. Si suami itu memang mulutnya perlu ditatar.

Cuma ternyata Ale boleh pindah kerja di offshore yang ada di Indonesia. Ya sudah, Anya nggak ada alasan lagi deh tinggal di Manhattan. Semua aman terkendali, di Jakarta pun Anya yang dalam kondisi hamil besar akhirnya bekerja lagi di perusahaan lamanya [dan saya sebagai orang HRD cuma garuk-garuk kepala aja sih kalau sampai ada perusahaan yang mau rekrut perempuan hamil besar. That’s so silly. Atau kayaknya sih itu perusahaan punyanya Agnes (Astrid Tiar), sahabatnya Anya jadi ya terserah saja lah 😛]. Anya mungkin tipe perempuan seperti saya, yang bakal gengges kalau nggak ada kerjaan walau sudah hamil besar. Bahkan sampai lembur-lembur segala. Apa nggak engap ya hamil besar masih kerja? Saya dulu sih engap, tapi tiap orang punya titik pertahanan yang beda-beda sih. Sampai akhirnya sebuah tragedi terjadi. Bayi di kandungan Anya meninggal, padahal due date-nya tinggal beberapa hari lagi. Peristiwa janin meninggal karena terlilit tali pusat memang menjadi momok yang mengerikan untuk ibu hamil. Sahabat saya pernah mengalami hal itu di usia kehamilan 9 bulan. Saya pun terpaksa harus sectio setelah kontraksi sampai bukaan 5 dan pakai induksi segala karena detak jantung anak saya melemah karena terlilit tali pusat. Anyway saat kehamilan pertama pun saya sempat keguguran, hingga saya sangat-sangat bisa berempati dengan apa yang dirasakan Anya.

Dalam menghadapi sebuah permasalahan, ada dua tipe usaha yang dilakukan seseorang, fight or flight. Menghadapi atau melarikan diri. Anya adalah tipe yang flight, dia berusaha menyangkal semuanya, berusaha menyibukkan diri dengan apapun yang dapat dikerjakan sehingga terkesan ‘biasa’ saja menghadapi peristiwa kegugurannya. Dan Ale pun ternyata memiliki tipe penyelesaian masalah yang sama, flight, namun bedanya, dia melarikan diri dengan cara nyalahin orang lain, dalam hal ini Anya.

Alhasil hubungan Anya dan Ale pun merenggang. Anya sama sekali tidak mau bicara, bersentuhan apalagi melakukan semua aktivitas intim seperti yang dipamerkan secara intens di bagian awal film. Padahal kalau saya jadi Ale ya, saya pengin nyanyiin lagu Dan-nya Sheila on 7 ke Anya di bagian lirik “Dan…bukan maksudku, bukan inginku, melukaimu. Sadarkah kau di sini ku pun terluka?”

Lalu sisa film itu diisi dengan usaha mereka dan orang di sekitar mereka untuk menghasilkan akhir kisah yang bahagia.

My Opinion

Kalimat pertama saya setelah selesai nonton. “Capek nih. Pegal banget punggung gue.” Durasi film ini 136 menit, 2 jam lebih 16 menit. Untuk kategori film drama, menurut saya sih kelamaan, kecuali film India ya, lumayan ada tari-nyanyi jadi nggak ngebosenin. Film ini rasanya dapat dibagi dalam dua bagian besar, cerita hubungan mereka sebagai pengantin baru yang tinggal di Manhattan (sekitar 60%) dan konflik paska kehilangan bayi berada di paruh sisanya. Apabila saya memang benar-benar tidak membaca novelnya, saya pasti akan mulai resah dan gelisah menunggu di sini ketika durasi film sudah menginjak 1 jam lebih dikit, saya nggak tahu mau dibawa kemana hubungan kita… (jadi berasa Syaiful Jamil, apa-apa dinyanyiin). Ketika lokasi cerita pindah ke Jakarta, barulah tempo cerita mulai meningkat dan memuncak ketika Anya dan Ale mulai saling membuktikan siapa dari mereka yang paling peduli dengan almarhum anak mereka.

Sementara buat saya pribadi, adegan yang bikin batin saya teriris-iris adalah ketika Agnes dan Tara (Hannah Al Rasjid, yang mirip banget mukanya sama Meriam Bellina) lagi ngobrolin nama apa yang pas untuk calon anak di janinnya Agnes. Di saat itulah semua pertahanan Anya jebol. Dia nangis sesenggukan di cafe sementara di awal sahabatnya hanya berkata “Elo kenapa?” (mereka nggak pada sensitif banget deh). Melarikan diri memang tidak enak, apalagi lari sambil bawa beban di punggung yang semakin lama semakin berat. Di situ Adinia Wirasti terlihat lepas banget aktingnya.

I really love Adinia Wirasti as Anya. Semakin ke sini, Asti semakin berbobot aktingnya. Dia bukan lagi cewek jangkung hitam keriting jago main basket di AADC tapi sudah menjelma jadi angsa cantik yang semakin dewasa dalam setiap perannya. Kalau Reza Rahadian? Christina Juzwar, sahabat saya, sampai akhir film masih ngotot, kenapa bukan Hamish Daud yang jadi Ale sih, dia tuh lebih cool. Dan kami cuma berkomentar, kalau Hamish jadi Ale, kasihan Raisa….krik krik (makanya sepanjang film nama Raisa sering banget kami sebut). Btw di film itu Hamish berperan jadi…ehm siapa ya namanya, lupa.

Akting Reza mah tidak usah diragukan ya, tapi karena nyaris selama beberapa minggu sebelumnya saya nontonin filmnya Reza yaitu Talak 3 dan Rudy Habibie, saya mulai bingung membedakan Reza lagi jadi siapa. Buat Reza, sepertinya dirimu perlu rehat dulu sementara. Jangan main film lagi paling nggak setahun ke depan, supaya saya jadi kangen sama kamu (ihiy).

Banyak bintang terkenal main atau menjadi cameo di film ini, tapi yang paling kasihan kalau menurut Mbak Vera, editornya GPU adalah Nino Fernandes. Si ganteng itu cuma muncul di akhir film, nyaris nggak ngomong apa-apa cuma gendong anak. Hahaha… Ada juga Mikha Tambayong tapi paling nggak dia masih dikasih dialog 🙂 Selain mereka ada Revalina S. Temat jadi adiknya Ale. Btw rambutnya Reva dari awal film sampai akhir tetap bob sebahu! Wow, pasti dia ke salon terus untuk ngetrim rambut (haha…abaikanlah), dan hal lain yang sangat kami perhatikan adalah kuteksnya Anya yang warnanya nggak berubah sepanjang film (hahaha…sudahlah ya)

Akhir kata, saran saya kalau mau menonton film ini harus sabar dan enjoy. Nikmati saja pemandangan yang ada di layar, karena cerita indah menanti di belakang. Kalau punggung mulai pegal kayak saya, mungkin kamu bisa lari-lari kecil di lorong atau ke toilet sebentar juga masih nggak ketinggalan cerita sih.

Salam kompak markompak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s