(MOVIE REVIEW) Nostalgia ala Eiffel I’m in Love 2

bts_eiffel_i_m_in_love_2-20170912-008-rita-860729920.jpg

Gambarnya bagus ya. Pemandangan sama outfitnya mereka berdua juga keren 😍 *gambarnya ambil di kapanlagi*

Karena hari ini Eiffel I’m in Love 2 rilis, maka saya mau sedikit (banyak sebenarnya) bercerita tentang film ini. Kebetulan dapat kesempatan untuk nonton premiere-nya hari Sabtu, 10 Feb 2018 lalu.

SPOILER ALERT!!

Buat yang temenan sama saya di Instagram & Facebook, saya sudah menulis sedikit reviewnya terutama tentang garis besar cerita & apa yang saya suka dari film itu. Di blog ini, saya justru mau menuliskan keresahan saya, yang sempat bikin bapak suami nyeletuk, “Kalau nggak karena dapat undangan, mendingan pulang sekarang aja deh.” FYI, celetukan itu dia ucapkan di tengah film.

Kesalahan pertama bagi penonton seusia kami adalah…” Jeng, elo udah ketuaan keleus.” Film ini jelas untuk remaja (yang masih menganggap cinta adalah prasyarat tercapainya kehidupan yang happily ever after).

Sementara untuk kami yang realistis & sudah (sedikit) makan asam garam kehidupan, syarat hidup bahagia itu kompleks, mulai dari anak-anak dan pasangan terjaga kesehatannya, kerjaan kantor beres, sampai hal se-simple: makan banyak tapi nggak gendut 😁

Tapi kan dulu saya nonton film pertamanya, maka wajib nonton lanjutannya dong?! Kalau begitu, saya harusnya nggak melakukan….

Kesalahan kedua. Itulah kesalahan yang kami lakukan karena kami adalah tipe penonton pemikir, yang kritis dan peduli pada detail. Sementara ada jenis film yang baiknya hanya perlu dinikmati saja, salah satunya Eiffel I’m in Love 2.

Tidak berbeda dari seri pertamanya, Eiffel I’m in Love 2 masih menceritakan kisah percintaan Adit (Samuel Rizal) dan Tita (Shandy Aulia). Karakter Adit masih sama: galak, cuek, egois, gengsian & romantis (tapi nggak mau ketahuan). Tita pun masih tetap gadis yang manja, kekanak-kanakan, nggak punya ambisi, gampang ngambek & impulsif. Padahal keduanya diceritakan sudah ada di akhir 20-an, dan mungkin Adit malah sudah 30-an karena dia sudah kuliah saat dulu Tita masih SMA.

Sejatinya, manusia itu berkembang sesuai tugas perkembangan usianya. Agak kurang natural saja, kalau di usia 27 tahun kamu nurut-nurut aja waktu ibumu melarangmu punya HP. Apalagi saking protektifnya kamu sampai bolak-balik ditelpon, ditanya kondisinya, disuruh cepat pulang karena sudah jam 8 malam. Sementara kamu sedang jadi bridesmaid di pernikahan sahabatmu, dan kalau sampai kamu nggak pulang, Mama Papamu bakal nyusul ke pernikahan! Ini cerita Tita, dan dia nggak punya perlawanan untuk membantah.

Tapi untuk ukuran seorang ibu yang over protektif dan takut anaknya dijahati orang, menjadi cukup aneh ketika ibunya Tita yang berhijab membiarkan saja putrinya pakai baju-baju seksi (jangan digiring ke agama ya, ini lebih ke konsistensi sikap 😉)

“Cit, ribet amat sih. Suka-suka penulis ceritanya lah, tokohnya mau dibuat seperti apa!” Maka marilah kita kembali ke syarat “kesalahan kedua” di atas.

Lalu bagaimana dengan Adit? Sebenarnya setali tiga uang dengan Tita, tapi dia punya sedikit rasa “calon suami” yang bekerja keras supaya bisa memberikan hidup yang layak untuk calon istrinya. Dalam hal ini, menyiapkan apartemen yang memiliki pemandangan menara Eiffel sebagai rumah masa depan mereka. Itu kan mahal banget. Belum lagi gaya hidup Adit yang mewah banget di Paris.

Lalu saya bertanya-tanya, gajinya Adit berapa sih dengan profesinya sebagai arsitek? Atau mungkin warisannya banyak? Pasti rumah lamanya yang dia jual untuk beli apartemen harganya fantastis deh, makanya bisa untuk beli apartemen dan banyak asumsi-asumsi lainnya yang bikin “kesalahan kedua” tetap berjaya.

Konflik utama dalam cerita ini adalah Adit & Tita yang pacaran jarak jauh selama 12 tahun dan selama rentang waktu itu, mereka tetap setia walau jarang ketemu dan kerjaannya berantem melulu.

Suatu kali Tita dan keluarganya dapat kesempatan pindah ke Paris karena orangtuanya mau membuka kembali restoran Indonesia mereka di sana, paska tutup karena ayah Adit sebagai owner sebelumnya, sudah meninggal.

Karena akan tinggal antara 6 bulan sampai 1 tahun di Paris, maka Tita resign dari pekerjaannya sebagai dokter hewan. Selain itu, dia dan Alan (Tommy Kurniawan), abangnya dan Uni (Saphira Indah), sahabat yang sekarang jadi kakak ipar Tita, sama-sama les intensif bahasa Perancis!!

Saya salut dengan keinginan kuat mereka untuk selalu belajar.

Nah, begitu sampai di Paris, Tita akhirnya bertemu lagi dengan Adit. Namun, baru semenit bertemu, mereka sudah berantem lagi. Kalau usia mereka masih remaja, it’s okay lah begitu tapi yelloww ini udah tua cing. Tidakkah hasrat kerinduan harusnya lebih menonjol? Tapi mereka cepat baikan kok, terus berantem lagi, dan baikan lagi, begitu terus. Oh ya, adegan konyol seperti film pertama: adegan nguping di pintu, terus pintunya dibuka, masih ada juga loh. Selain itu, seperti film pertamanya, Tita masih suka banget makan cheeseburger & minum milkshake. Begitu sampai Paris, masalah cheeseburger & milkshake menjadi sumber konflik seperti di film pertamanya 😁

Puncaknya, Tita yang sudah GR bakal dilamar sama Adit, akhirnya harus menelan pil pahit ketika Adit bilang dia masih belum siap menikah. Tita pun patah hati dan minta putus.

Di sisi lain, muncullah Adam (Marthino Lio). Sahabat Tita yang sudah dekat selama 11 tahun. Adam digambarkan sebagai pria yang baik hati, sabar, yang enak diajak curhat, punya anjing husky yang lucu dan juga tajir! Kata Adit, cowok sama cewek itu nggak mungkin bersahabat, kecuali dia naksir. Intinya gitu sih. Cuma kan Tita anaknya polos, mana dia ngerasa walau Adam sering memerhatikan dia 😌 Contohnya:

  1. Pas Tita antri drive thru McD dan cheeseburgernya nggak datang-datang padahal dia sudah lapar, Adam tiba-tiba ngasih cheeseburgernya.
  2. Waktu Tita ulang tahun, Adam ngasih hadiah iPad (walau ga boleh punya HP, Tita boleh punya iPad & supaya kalau mau curhat, dia bisa email²an sama Adam😁)
  3. Lalu yang paling fenomenal, secara sak det sak nyet Adam tiba-tiba muncul di Paris waktu tahu Tita putus sama Adit. Soalnya Adam takut kalau Tita bunuh diri loncat ke Sungai Seine karena patah hati. Sweet banget kan? Orangtuanya Tita yang over protektif itu saja nggak segitunya 😁

Namun, berbeda dengan Tita dan keluarganya yang harus well prepared saat pergi ke Paris, termasuk tentunya visa dan izin² lainnya, Adam hanya butuh waktu paling lama 2 hari untuk ada di Paris! Lalu supaya mobilitas di sana mudah, Adam kemana-mana nyetir mobil sendiri. Adam memang hebat. Adam memang ciamik! 😁😁

Sayangnya karakter Adam hadir hanya sebagai pemanis yang tidak terlalu kuat berperan mencaur-maurkan hubungan Adit dan Tita. Selain karakter dan takdir cerita untuk Adam yang menurut saya lemah, akting Marthino Lio juga masih kaku. Ekspresinya mana? Mencatut tagline sebuah iklan jadul. Konflik yang melibatkan Adam pun berlalu dengan mudahnya.

Namun, di luar semua catatan tersebut, Eiffel I’m in Love 2 tetap menawarkan nostalgia, terutama bagi penonton film pertamanya. Chemistry antara Tita dan Adit tetap terbangun dengan baik. Mereka pasangan yang interaksinya sangat menggemaskan, walau rasanya jadi nyebelin begitu ingat usia mereka tak lagi remaja. Tokoh lain yang jadi highlight bagi saya adalah Uni. Karakternya yang kocak dan spontan, membuat filmnya jadi lebih berwarna. Hampir semua tokoh yang ada di film pertama, muncul lagi di sekuelnya. Cara praktis untuk membuat kesinambungan cerita tetap terjaga. Selain itu, Paris tetap sebuah kota yang menarik dan indah untuk dijadikan latar belakang cerita-cerita romantis.

Terakhir, I love the soundtrack! Kebetulan selama ini sering dengerin OST-nya sebelum filmnya rilis. Melly Goeslaw dan Anto Hoed belum luntur pesonanya dalam membuat lagu-lagu yang ear catchy.

So, jangan lakukan dua kesalahan saya kalau kamu mau bernostalgia dengan Eiffel I’m in Love 2. Tontonlah dengan santai dan nikmatilah setiap adegannya tanpa harapan yang muluk-muluk 😉

Salam kompak markompak!

This slideshow requires JavaScript.

rating-pg13

5_star_rating_system_2_and_a_half_stars

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s